
Sebuah penamaan yang akhir-akhir ini sangat marak bahkan menjadi trend. Di mana manusia dengan mudahnya menjuluki ataupun memanggil orang islam yang berusaha komitmen dengan ajaran islam ‘tertentu’ dengan penyebutan ‘wahhabi’?
Apa dan bagaimana penamaan ‘wahhabi’ ini sendiri banyak yang tidak memahaminya. Tetapi penamaan ini tidak lepas juga dari kaum orientalis barat yang sangat gigih meluangkan uang dan waktunya untuk ‘mengamati’ agama islam di manapun berada, tentu saja dengan tujuan yang jelas untuk keuntungan mereka dan pahamnya saja, yang notabene adalah menjatuhkan islam serendah-rendahnya.
Sayangnya umat islam sendiri memang memiliki kelemahan yang cukup parah, dalam hal ini adalah sikap berlebihan dalam menyintai golongan dan keyakinannya. Sebagaimana kita ketahui bahwa telah marak di muka bumi ini berbagai aliran dan ajarannya dengan umat pendukungnya. Seolah-olah memberikan pembuktian nyata akan terkotak-kotaknya kaum muslimin saat ini dengan label masing-masing. Parahnya, orang awamnyapun dengan sikap keras saling menentang satu sama lain tanpa keilmuwan mencukupi berkata lantang.
Pada akhirnyapun tak jarang umat islam saat ini terperosok kepada kebencian yang sangat serius kepada sesamanya kaum muslim ketika menyebutkan penamaan ‘wahhabi’ ini. Sungguh sangat mengenaskan, sementara banyak diantara mereka yang tidak mengetahui asal usul sejarahnya. Pokoknya ‘wahhabi’! Yang mungkin saja hal ini adalah tujuan orang-orang di luar islam tadi untuk menghancurkan agama islam dari dalam tubuhnya sendiri dengan ‘mengadu-domba’ sesama umat islam dengan cara menaburkan benih kebencian. Bukankah hari ini kita telah melihat ‘api kebencian itu’? Bahkan sampai kepada perkataan ‘sesat’ yang serampangan. Karena hanya lembaga yang berkompeten ataupun ulama saja yang berhak memasuki koridor ini, yaitu menyatakan kesesatan seseorang maupun kelompok atau golongan berdasarkan keilmuwan yang mewadai.
Sesungguhnya tidak ada satu kelompokpun yang menamakan dirinya sebagai ‘wahhabi’. Nama ini adalah penyebutan belaka justru dari orang ataupun kelompok yang berada di luar dakwah ‘wahhabi’. Tetapi studi simple ini akan mencoba mengupas arti harafiah dari penamaan wahhabi’ ini secara sederhana.
Jelas diketahui oleh kaum muslimin pada umumnya, salah satu asmaul husna dari Allah Azawajala adalah Al Wahhab, yang artinya Yang Maha Menganugerahi, yang mana dari nama ini seluruh manusia bisa disebut sebagai abdul Wahhab, yang arti lugasnya adalah ‘hamba Yang Maha Menganugerahi’ sebagaimana bisa disebut juga sebagai abdul Allah atau Abdullah dan seterusnya. Sehingga kata ‘wahhabi’ disini bisa diterjemahkan dengan lugas sebagai ‘pengikut Al Wahhab’ atau pengikut Yang Maha Menganugerahi yaitu Allah subhana wa taa’la. Bukankah demikian sebenarnya? Lalu bagaimana dengan ‘rasa benci’ yang terjadi selama ini ketika penamaan ini disebutkan? Silahkan anda menjawabnya dengan jujur. Apakah layak seorang hamba sahaya memiliki kebencian ini kepada Al Wahhabnya?
Ketika kita memasuki pembahasan ‘wahhabi’ ini yang dinisbatkan kepada seorang ulama di Negara Saudi Arabia yaitu Syekh Abdul Wahhab rahimahullah, maka jelas sekali kita dapati kesalahan yang sangat besar dalam penamaan tersebut. Mengapa? Karena perbedaan yang sangat besar bahkan tidak akan mungkin disamakan antara Abdul Wahhab dengan Al Wahhab. Al Wahhab adalah Allah taa’la sementara Abdul Wahhab hanyalah seorang hamba. Sehingga dari sini bisa disimpulkan dengan jelas bahwa telah terjadi kesalahan besar dalam penamaan golongan ‘wahhabi’ ini.
Maka seharusnya adalah golongan ‘abdulwahhabi’ ataupun ‘abdulwahabiyah’ yang secara lugas diartikan sebagai ‘pengikutnya abdul Wahhab’ atau secara harafiah bisa dikatakan ‘pengikutnya hamba (nya/dari) Yang Maha Menganugerahi’ atau lebih jelasnya lagi adalah: orang atau kelompok yang mengikuti paham seorang hamba Allah.
Lepas dari baik buruknya seseorang yang dimaksudkan pada penisbatan nama ‘wahhabi’ tersebut, setidaknya umat islam harus berpikir ulang? Bukankah sama saja ketika ia menghinakan (arti lugas) ‘wahhabi’ berarti ia telah menghinakan tuhannya? Membenci tuhannya? Secara bahasa di atas sudah jelas. Bukankah hal ini hanya pantas dilakukan oleh mereka yang membenci islam? Karena tidak akan mungkin seorang muslim yang ‘paham’ akan melakukannya.
Bukan maksud penulis melarang anda membenci golongan tersebut, karena cara pandang maupun pemahaman setiap orang jelas berbeda, terserah anda memilih untuk berada di mana. Tetapi yang jelas semua akan kembali kepada obyektifitas 'kebenaran' masing-masing golongan tersebut. Toh perjalanan waktu akan menampakkan kebenaran yang sesungguhnya, sementara kita hanya terbelenggu dengan ‘pembenaran’ dari subyektifitas pemikiran yang sangat terbatas, salah satunya karena ‘terlanjur benci tadi’.
Silahkan direnungkan kembali.....
Wallahu a’lam.

