Rabu, 12 Mei 2010

PENISBATAN BAIK TETAPI BERMAKSUD BURUK


Sebuah penamaan yang akhir-akhir ini sangat marak bahkan menjadi trend. Di mana manusia dengan mudahnya menjuluki ataupun memanggil orang islam yang berusaha komitmen dengan ajaran islam ‘tertentu’ dengan penyebutan ‘wahhabi’?


Apa dan bagaimana penamaan ‘wahhabi’ ini sendiri banyak yang tidak memahaminya. Tetapi penamaan ini tidak lepas juga dari kaum orientalis barat yang sangat gigih meluangkan uang dan waktunya untuk ‘mengamati’ agama islam di manapun berada, tentu saja dengan tujuan yang jelas untuk keuntungan mereka dan pahamnya saja, yang notabene adalah menjatuhkan islam serendah-rendahnya.


Sayangnya umat islam sendiri memang memiliki kelemahan yang cukup parah, dalam hal ini adalah sikap berlebihan dalam menyintai golongan dan keyakinannya. Sebagaimana kita ketahui bahwa telah marak di muka bumi ini berbagai aliran dan ajarannya dengan umat pendukungnya. Seolah-olah memberikan pembuktian nyata akan terkotak-kotaknya kaum muslimin saat ini dengan label masing-masing. Parahnya, orang awamnyapun dengan sikap keras saling menentang satu sama lain tanpa keilmuwan mencukupi berkata lantang.


Pada akhirnyapun tak jarang umat islam saat ini terperosok kepada kebencian yang sangat serius kepada sesamanya kaum muslim ketika menyebutkan penamaan ‘wahhabi’ ini. Sungguh sangat mengenaskan, sementara banyak diantara mereka yang tidak mengetahui asal usul sejarahnya. Pokoknya ‘wahhabi’! Yang mungkin saja hal ini adalah tujuan orang-orang di luar islam tadi untuk menghancurkan agama islam dari dalam tubuhnya sendiri dengan ‘mengadu-domba’ sesama umat islam dengan cara menaburkan benih kebencian. Bukankah hari ini kita telah melihat ‘api kebencian itu’? Bahkan sampai kepada perkataan ‘sesat’ yang serampangan. Karena hanya lembaga yang berkompeten ataupun ulama saja yang berhak memasuki koridor ini, yaitu menyatakan kesesatan seseorang maupun kelompok atau golongan berdasarkan keilmuwan yang mewadai.


Sesungguhnya tidak ada satu kelompokpun yang menamakan dirinya sebagai ‘wahhabi’. Nama ini adalah penyebutan belaka justru dari orang ataupun kelompok yang berada di luar dakwah ‘wahhabi’. Tetapi studi simple ini akan mencoba mengupas arti harafiah dari penamaan wahhabi’ ini secara sederhana.


Jelas diketahui oleh kaum muslimin pada umumnya, salah satu asmaul husna dari Allah Azawajala adalah Al Wahhab, yang artinya Yang Maha Menganugerahi, yang mana dari nama ini seluruh manusia bisa disebut sebagai abdul Wahhab, yang arti lugasnya adalah ‘hamba Yang Maha Menganugerahi’ sebagaimana bisa disebut juga sebagai abdul Allah atau Abdullah dan seterusnya. Sehingga kata ‘wahhabi’ disini bisa diterjemahkan dengan lugas sebagai ‘pengikut Al Wahhab’ atau pengikut Yang Maha Menganugerahi yaitu Allah subhana wa taa’la. Bukankah demikian sebenarnya? Lalu bagaimana dengan ‘rasa benci’ yang terjadi selama ini ketika penamaan ini disebutkan? Silahkan anda menjawabnya dengan jujur. Apakah layak seorang hamba sahaya memiliki kebencian ini kepada Al Wahhabnya?


Ketika kita memasuki pembahasan ‘wahhabi’ ini yang dinisbatkan kepada seorang ulama di Negara Saudi Arabia yaitu Syekh Abdul Wahhab rahimahullah, maka jelas sekali kita dapati kesalahan yang sangat besar dalam penamaan tersebut. Mengapa? Karena perbedaan yang sangat besar bahkan tidak akan mungkin disamakan antara Abdul Wahhab dengan Al Wahhab. Al Wahhab adalah Allah taa’la sementara Abdul Wahhab hanyalah seorang hamba. Sehingga dari sini bisa disimpulkan dengan jelas bahwa telah terjadi kesalahan besar dalam penamaan golongan ‘wahhabi’ ini.


Maka seharusnya adalah golongan ‘abdulwahhabi’ ataupun ‘abdulwahabiyah’ yang secara lugas diartikan sebagai ‘pengikutnya abdul Wahhab’ atau secara harafiah bisa dikatakan ‘pengikutnya hamba (nya/dari) Yang Maha Menganugerahi’ atau lebih jelasnya lagi adalah: orang atau kelompok yang mengikuti paham seorang hamba Allah.


Lepas dari baik buruknya seseorang yang dimaksudkan pada penisbatan nama ‘wahhabi’ tersebut, setidaknya umat islam harus berpikir ulang? Bukankah sama saja ketika ia menghinakan (arti lugas) ‘wahhabi’ berarti ia telah menghinakan tuhannya? Membenci tuhannya? Secara bahasa di atas sudah jelas. Bukankah hal ini hanya pantas dilakukan oleh mereka yang membenci islam? Karena tidak akan mungkin seorang muslim yang ‘paham’ akan melakukannya.


Bukan maksud penulis melarang anda membenci golongan tersebut, karena cara pandang maupun pemahaman setiap orang jelas berbeda, terserah anda memilih untuk berada di mana. Tetapi yang jelas semua akan kembali kepada obyektifitas 'kebenaran' masing-masing golongan tersebut. Toh perjalanan waktu akan menampakkan kebenaran yang sesungguhnya, sementara kita hanya terbelenggu dengan ‘pembenaran’ dari subyektifitas pemikiran yang sangat terbatas, salah satunya karena ‘terlanjur benci tadi’.


Silahkan direnungkan kembali.....
Wallahu a’lam.
READ MORE - PENISBATAN BAIK TETAPI BERMAKSUD BURUK

ADAKAH ISLAM YANG ‘SEPERTI PERTAMA KALI DITURUNKAN’?


Hanya sebuah pendapat dari pencarianku.

Assalamualaykum,


Aku hanyalah seorang pencari. Dua puluh delapan thn lebih kuhabiskan waktuku di gereja katholik mencari kebenaran, kedamaian. Tapi tak kutemui. Alhamdulillah ‘hidayah’ Allah memanggilku, masuklah aku kepada ‘islam’ ini.


Ternyata blm tuntas juga…? Aku bingung: smua ‘mengklaim’ kebenaran itu. Lihat saja di forum ini. Akhirnya harus kuputuskan sendiri menurut pendapatku:


1. Islam adlh agama yg paling sempurna, krn itulah aku memilihnya.
Berbeda dgn agama sebelumnya, kesempurnaan islam berdasarkan bukti2 yg sangat kuat:
a. Al qur’an : yg murni sampai hr ini hingga kiamat kelak
b. Al hadits: yg dgnnya Allah menjelaskan kitabNya dgn sejelas2nya melalui perkataan, perbuatan dll rasulillah shalallahu alaihi wasalam
c. Generasi Terbaik dari seluruh manusia yg pernah diciptakan di bumi ini: yg darinya islam telah memberikan bukti : sebagai agama yg terbaik dan sempurna.

2. Islam ‘yg sebagaimana diturunkan pada awalnya’ masih ada dan akan tetap ada! Buktinya? Secara akal normalpun jelas: “bukankah Allah akan menjaga kemurnian kitabNya?” maka akan selalu ada, manusia yg diberi kesempurnaan hidayah untuk memahami al qur’an, yang tentu saja untuk memahami ‘maksud’ dari agama ini.


Cukup dua point saja.

Saya melihat, merasakan, mendengar dengan mata kepala sendiri: kaum muslim ‘pada umumnya’ saat ini hanya berbeda ‘sedikit saja’ dgn umat lain. Selebihnya hampir tak berbeda lagi. Bedanya : 1.ktp , 2. Sholat dll.


Pemikirannya tidak jauh berbeda, amalannya : beda caranya saja (beramal tanpa ilmu), cara hidupnya? Dan lain sebagainya. Sungguh saya rasakan ‘mirip’ dgn apa2 yg saya miliki dulu sbg orang katholik.


Bukankah islam adalah kesempurnaan? Lalu kenapa kalo pada akhirnya sama saja tanpa ‘keistimewaan’? anda semua insya Allah muslim, tetapi pembicaraan di banyak tempat antar sesama kaum muslim tak jauh bedanya dgn yg kita jumpai di pasar2, di kafe2….dll? bukankah kita semua bersaudara. Bukankah kita umat dari agama yg paling sempurna ini?


Nasrani telah hancur (agamanya) karena mereka beriman dan beribadah TANPA ILMU. Yahudi telah hancur karena MENYEMBUNYIKAN ILMU. Bukankah kita bisa mengambil manfaat dari kehancuran agama mereka?


Saudaraku, sungguh ‘islam’ adlh jalan, kebenaran dan hidup! Maka ambillah jalan yg paling lurus yakni ‘mereka’ yg hidup ketika islam ini diturunkan dan dijelaskan, merekalah para sahabat rasulillah, generasi yang PALING memahami islam ini! Ambillah kebenaran, yakni kebenaran yang dipegang oleh generasi yang PALING memahami islam ini! Dan ambillah hidup, yakni bagaimana kehidupan generasi yang PALING memahami islam ini! Bukan berarti anda harus hidup pd masa lalu! Tetapi bagaimana mereka ‘memanfaatkan hidup ini’.

Hiduplah sebagaimana islam yang pertama kali diturunkan mengajarkan anda…..
Wassalam.
Hidayatullah.
READ MORE - ADAKAH ISLAM YANG ‘SEPERTI PERTAMA KALI DITURUNKAN’?

Kamis, 15 Oktober 2009

MENEMUKAN YANG KUCARI!

Tidak ada kebahagiaan yg bisa melebihi ketika seseorang menemukan kebenaran itu: islam.
Kebahagiaan apapun yg pernah dirasakan tak kan mampu menandinginya!
Ketika Allah mulai memberinya uluran-uluran hidayah kedalam hatinya. Yang kemudian menjadikannya ketentraman luar biasa di kehidupannya....

Tetapi saudaraku,
ternyata dalam posisi seperti itupun kita masih memerlukan hidayah lagi!
Yaitu sebuah kesempurnaan untuk memahami agama ini.
Seperti pada pembahasan yg lalu, di mana saat ini islam telah berwarna-warni mewarnai kehidupan beragama di seluruh dunia. Berbagai macam corak dan pola kita saksikan. Berbagai bentuk yg berbeda satu sama lain menjadi sebuah kenyataan yg tak lagi asing! Mungkin karena kita telah terbiasa melihatnya hal itu menjadi sesuatu yg biasa-biasa saja.

Pertanyaannya, apakah semua itu benar sebagaimana klaim mereka tersebut? Tidak akan pernah anda jumpai dari sekian banyak kelompok atau golongan itu mengatakan : jangan ikuti aku! Semua pasti mengajak anda untuk mengikuti kebenarannya!
Di sinilah mengapa ternyata kita masih membutuhkan hidayah itu. Sebagaimana pesan junjungan kita Nabi Muhammad saw di banyak riwayat yang menjelaskan agar kita berpegang teguh kepada kitabullah dan sunnahnya ketika fitnah dalam agama ini muncul! Yaitu dengan mencari lalu mengikuti satu dari sekian banyak golongan itu. Bahwa ummat islam ini akan terpecah belah menjadi 73 golongan yg semuanya akan masuk neraka, kecuali satu, yaitu golongan yang selamat! Anda mungkin lebih tahu sumber haditsnya.

Permasalahan yg muncul kemudian adalah: siapakah golongan yg selamat itu? Bukankah seluruh golongan atau kelompok islam yg kita temui saat ini semuanya meng'klaim' sebagai golongan yg selamat itu? Maka di sinilah ummat islam benar-benar akan merasakan 'berpecah belah' itu. Apabila anda benar-benar seorang muslim yg mencari dan mencintai kebenaran maka anda akan merasakan berbagai kesedihan keprihatinan dan kerinduan yg mendalam dari pencarian itu. Namun, apabila anda sudah merasa cukup dengan keislaman anda sekarang tentunya tidak ada lagi yg anda inginkan untuk anda dapati, apalagi kalau anda hanyalah sebagai 'maaf' orang yg mengaku islam saja, pastilah anda tidak membutuhkan apapun dari pencarian ini....

Saudaraku,
sebelum kita memasuki pembahasan yg natinya akan sangat panjang ini, saya akan mengajak anda sedikit menengok 'apa' yang telah terjadi pada agama lain yg sebenarnya 'sama-sama' telah tertimpa musibah paling besar yaitu 'fitnah dalam agama'. Sangat diharapkan bisa menjadi sebuah cermin buat kita, untuk lebih memahami apa yg sebenarnya telah menimpa kehidupan beragama kita, sehingga menjadi hidayah lagi buat kita untuk lebih memahami keyakinan islam ini.
Sebagaimana yg telah dijelaskan dalam banyak hadits, agama yahudi dan nasrani juga mengalami perpecahan, disebutkan bahwa masing-masing akan menjadi 71 dan 72 firqoh yang kesemuanya akan masuk ke neraka. Dari pengalaman lalu yg saya ketahui bahwa di agama nasrani hal tersebut memang sungguh-sungguh telah terjadi. Sebagai contoh dari sekian banyak perpecahan itu adalah antara kristen katholik roma dan kristen protestan. Sebagai mantan penganut katholik roma saya memiliki pemahaman dalam perpecahan tersebut. Dari sekian banyak perbedaan itu adalah bahwa baik keyakinan saya dulu itu maupun keyakinan kristen protestan sama-sama tidak akan bisa dipertemukan. Intinya masing-masing jelas memiliki klaim tentang kebenaran itu. Yang apabila keduanya dipertemukan tidaklah mungkin akan menghasilkan kesepakatan untuk dipersatukan, misalnya yg protestan kemudian meninggalkan keyakinannya lalu melebur menjadi katholik! Untuk perorangan mungkin hal itu bisa terjadi, tetapi jika hal itu terjadi dalam wilayah 'golongan seluruhnya' sangatlah tidak akan mungkin!
Justru yang sangat mungkin terjadi adalah apabila salah satu dari golongan tersebut berpecah belah lagi sehingga menjadi dua kelompok! Mengapa demikian? Jawabannya sangat sederhana: fitrah manusia! Tabiat umum manusia adalah berpecah. Karena setiap individu diberi karunia yg berbeda baik dari sisi harta benda dan kecerdasan, maka hal ini menjadikan manusia mengikuti naluri dalam dirinya yang mana kebanyakan dari itu adalah: hawa nafsunya. Nah pada titik itulah akan terjadi perselisihan, perdebatan yang ujung-ujungnya adalah perpecahan!

Ada satu hal yg perlu sekali digarisbawahi! Yang mana hal ini adalah sesuatu yg terpenting dari pembahasan panjang ini. Anda mungkin tidak sempat memikirkan dengan cara bagaimana pembicaraan di antara kaum nasrani tersebut dilakukan. Maksudnya, bagaimana mereka mengambil suatu hukum apabila terjadi sebuah permasalahan dalam agama mereka. Misalnya mengapa pembesar agama dari golongan katholik tidak diperbolehkan menikah, sementara pada golongan protestan diperbolehkan? Maaf, mungkin anda mengira bahwa sebagaimana dalam agama kita 'islam' ini selain al qur'an kita juga mengambil hukum dari al hadits, kesepakatan ulama dan kias, begitu kan? Maka perkiraan anda jelas-jelas salah! Karena dalam agama nasrani dari kelompok atau golongan yang manapun tidak akan anda jumpai 'yang seperti hadits'! Maksudnya satu-satunya sumber hukum dalam agama mereka hanyalah : injil saja! Bahkan injil yg mereka miliki itupun berbeda satu sama lain. Tentunya anda sekarang akan bisa membayangkan: bagaimana mungkin akan mendapatkan kesepakatan dalam mencari kebenaran? Kitab sucinya yang dipakaipun tidak sama... Ditambah pula tidak ada penjelasannya yg 'seperti hadits di islam'? Padahal seandainya tidak ada hadits di dalam agama islam, niscaya ummat islam tidak akan mampu melaksanakan agamanya! Misalnya sholat, apakah anda bisa menjelaskan bagaimana tata cara sholat yg benar dengan dasar al qur'an saja tanpa kitab hadits?
Niscaya tidak akan anda jumpai satupun ayatnya! Seluruh perintah sholat dalam al qur'an tidak disertai tata cara pelaksanaannya! Tetapi hal itu dijelaskan melalui pewahyuan kepada Rasulullah saw yang kemudian kita kenal sebagai hadits.

Nah anda mulai sedikit paham dengan pembicaraan ini kan? Ya! Al hadits! Itulah yang membedakan agama islam dengan agama yg lain! Seluruh permasalahan agama di dalam islam telah dijelaskan di dalam hadits, sehingga dengannya dimudahkanlah kita untuk memahami agama ini. Tidak seperti pada agama yang lain.
Maka pertanyaan selanjutnya adalah: mungkinkah umat islam ini kembali menjadi satu umat, satu keyakinan, satu golongan yang utuh sebagaimana ketika pertama kali islam diturunkan dulu??? Sebenarnya jawabannya: iya! Sangatlah mungkin, karena sumber-sumber hukum dalam islam ini masih lengkap hingga saat ini, bahkan Allah telah menjaminnya hingga akan tetap terjaga sampai kiamat tiba! Bukankah Rasulullah telah berpesan: apabila kita mendapati suatu permasalahan maka kembalikanlah kepada kitabullah dan sunnah/ al hadits? Dan bukankah kitapun juga yakin akan kebenaran dari keduanya? Lalu mengapa terjadi seperti sekarang ini, umat islampun telah berkelompok-kelompok sebagaimana agama lain?
Jawabannyapun sederhana: tabiat manusia...

berlanjut....
READ MORE - MENEMUKAN YANG KUCARI!

Rabu, 26 Agustus 2009

Part One

Melanjutkan postingan yang telah lalu....

Salah satu hal yang ingin kuhindari adalah: menggurui, masalahnya jelas: aku bukan guru atau ustad. Jadi mohon maaf yang sebesar-besarnya jika ternyata usaha untuk 'tidak menggurui'ku ini di sana sini masih anda rasakan, padahal saya sudah berusaha maksimal, yah namanya juga 'mualaf yang baru belajar', sekali lagi mohon maaf.

Saudaraku...,

Ada sebuah hal yang buatku sangat penting, yang mungkin hal ini tidak begitu anda sadari. Kemungkinan besar hal ini disebabkan oleh latar belakang kita yang berbeda. Maksud saya, sebagaimana keadaan anda yang sejak kecil dulu telah memiliki keyakinan islam yang anda dapatkan dari lingkungan keluarga dan yang lainnya, sehingga hal tersebut menjauhkan anda dari apa yang disebut sebagai 'orang kufur'. Maka dari sini jelaslah bahwa anda: alhamdulillah tidak memiliki latar belakang yang gelap sebagai mantan kafirin seperti saya.

Nah, pada titik inilah sedikit perbedaan itu akan menjadi topik-topik pembicaraan saya dalam blog ini. Yaitu: pandangan seorang muslim baru dalam hiruk pikuk dunia islam. Koq hiruk pikuk? Kenyataannya kan begitu: coba anda perhatikan....! Terlihat kan? Hari ini berapa banyak nama islam di sekitar anda? Yang ini-lah, yang itu-lah...?! Wow! Banyak banget! Sehingga kalo seseorang bertanya kepada kita: apakah agama anda? Jelas akan kita jawab dengan bangga: Islam! Tetapi cukupkah demikian? Maaf, perlu sedikit direnungi. Islam...... Yang mana? Nah! Seperti kita jumpai pada hari ini, berbagai golongan-golongan bahkan aliran-aliran baru, malah... katanya ada aliran sesat juga. Jadi sepertinya, kalau pertanyaan tadi datangnya dari orang yang non muslim mungkin cukup, tetapi kalo yang bertanya itu sesama muslim, di dalam hatinya (si penanya) pasti masih akan bertanya lagi: islam yang mana? Coba anda jawab jujur, kira-kira kalau anda menjadi sebagai 'si penanya', cukupkah anda mendapat jawaban: islam, saja? Maksud saya, apakah anda tidak berpikir lagi seperti ini: islam?, islam yang mana ya, islam ktp atau.....islam teroris ya? Hahaha...maaf, karena lagi gencar nih.

Lalu apa maksud dari pembicaraan ini?

Nah, dari pemikiran simpel inilah, saya akan mengajak anda berbagi pengalaman.

Pembicaraannya mengenai 'cara pandang' yang tadi. Begini, sebelum masuk islam, bagi saya agama adalah sesuatu yang paling penting melebihi semuanya. Jadi sebisa mungkin saya berusaha untuk menyelami sedalam-dalamnya: apa iman itu. Karena inti pokoknya ini, iman. Oleh sebab itu, saya gemar melakukan perjalanan rohani, dengan berbagai cara yang tujuannya untuk memperoleh iman yang sekuat-kuatnya. Tentu saja dalam tata cara peribadahan saya waktu itu, yaitu katholik.

Inilah yang saya maksud sebagai 'cara pandang yang berbeda' itu.

Untuk memperjelas, saya akan mengajukan sebuah pertanyaan kepada anda. pertanyaannya: "Apakah saat ini anda sudah merasa cukup 'menjadi orang islam'?
Artinya, apakah anda sudah merasa puas dengan yang anda miliki saat ini sebagai muslim, yaitu pengetahuan anda tentangnya, amal peribadahan anda dan tentu saja: akhlak, sudah sesuaikah dengan islam?
Sementara pertanyaannya itu dulu, dengan tiga poin yang bagi saya sangat penting:
1. pengetahuan atau ilmu tentang islam.
2. amal ibadah
3. akhlak

Semoga, uraian dari ketiga hal itu menurut cara pandang saya yang mantan kafirin ini tidak berbeda dengan anda.
Sebelum itu, saya akan mengajak anda untuk menengok kembali kepada surat Al Faatihah pada pembukaan pembicaraan ini dalam postingan saya yang pertama yaitu ayat yang ke 6 dan 7.

٦. اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ

٧. صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ

Ayat ini paling tidak kita baca 17 (tujuh belas) kali setiap harinya dalam sholat fardhu kita.
Ada hal yang sangat menarik buat saya pribadi dalam kedua ayat tersebut, apalagi setiap hari saya baca minimal sebanyak itu, yaitu ketika saya diwajibkan membacanya: yang artinya Tunjukilah kami jalan yang lurus,(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni'mat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
Saya terkejut ketika mendapati tafsir ayat ini pada awal mula masuk islam, yakni sebuah pengingkaran atau penolakan agar tidak diberi jalan seperti mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat, yaitu kaum yahudi dan nasrani? Sebagai seorang yang pernah 'taat' menjadi kaum nasrani tentu saja saya terkejut. Begitu dahsyatnya ayat ini! Sehingga kita harus memohon kepada Allah Subhana Wataa'la agar tidak seperti kedua kaum tersebut!

Ternyata alhamdulillah saya diberi kesempatan untuk mempelajarinya.
Saudaraku, pernahkah terlintas dibenak anda: mungkinkah seorang muslim berakhidah yahudi atau nasrani?

Silahkan anda merenung sejenak. Kelanjutan dari pembicaraan ini insya Allah akan saya teruskan pada postingan yang berikutnya.
READ MORE - Part One

Senin, 17 Agustus 2009

Bagaimana Memahami Agama Ini

Bukan sesuatu yang mudah. Adalah sebuah perjalanan yg cukup panjang, hingga aku berada pada diriku hari ini.

Di sini aku hanya ingin berbagi pengalaman, bahwa ternyata: agama bukanlah sesuatu yang simple seperti yg kita bayangkan. Tetapi merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan: ILMU DAN AMAL. Bahwa ia adalah sebuah tuntunan yg nyata, yang mau tidak mau harus dipelajari untuk kita ikuti sehingga kita bisa mengamalkannya dengan benar.

Untuk itulah saya mencoba membuat sebuah blog yg sederhana ini, di mana anda insya Allah akan bisa mengambil manfaat darinya meskipun masih sangat sedikit sekali kemampuan yg ada pada diri saya.

Merenungi ayat yg ke enam dan terakhir dalam surat pertama kitab suci yg kita mulyakan Al Qur'an al Kariem:

٦. اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ

6. tunjukilah kami jalan yang lurus,

٧. صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ

7. (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni'mat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

ini, saya akan mengajak anda sekalian untuk menelusuri perjalanan yang masih terus berlangsung ini.
READ MORE - Bagaimana Memahami Agama Ini